Materi 5 : Data Flow Diagram (DFD)
Mengenal Data Flow Diagram (DFD): Alat Visual Penting dalam Perancangan Sistem
Dalam pengembangan perangkat lunak, pemahaman terhadap aliran data dan proses yang terjadi dalam sistem sangat penting. Salah satu alat bantu yang digunakan adalah Data Flow Diagram (DFD). DFD memberikan gambaran visual tentang bagaimana data berpindah dan diproses dalam sistem. Artikel ini membahas pengertian, fungsi, simbol, dan langkah pembuatan DFD secara teknis dan praktis.
Apa Itu DFD?
Data Flow Diagram (DFD) adalah diagram yang digunakan untuk menggambarkan aliran data, proses-proses, penyimpanan data (data store), serta entitas eksternal dalam suatu sistem. DFD membantu dalam:
- Memahami struktur proses dalam sistem
- Menyediakan dokumentasi visual
- Menjadi alat komunikasi antara tim pengembang dan pengguna
(DFD pertama kali diperkenalkan oleh Larry Constantine sebagai bagian dari Structured Design – Pressman, 2010)
Fungsi Utama DFD
1. Menganalisis kebutuhan sistem
2. Mendokumentasikan sistem
3. Memfasilitasi komunikasi antar tim
4. Merencanakan sistem yang efisien dan minim redundansi
Menurut Kendall & Kendall (2011), DFD sangat efektif dalam menjelaskan sistem kepada pengguna non-teknis dan pemangku kepentingan karena bersifat visual dan sederhana.
Simbol-Simbol DFD
DFD menggunakan simbol standar untuk merepresentasikan komponen sistem:
- External Entity (Entitas Eksternal) : Digambarkan dengan persegi panjang, mewakili pihak luar yang memberi atau menerima data dari sistem. Contoh: pelanggan, admin.
- Process (Proses) : Simbolnya berupa lingkaran atau oval, menggambarkan aktivitas yang memproses data menjadi output.
- Data Store (Penyimpanan Data) : Digambarkan dengan dua garis horizontal. Ini adalah tempat penyimpanan sementara data dalam sistem, seperti database.
- Data Flow (Alur Data) : Berupa panah berlabel, menunjukkan arah dan jenis data yang mengalir di antara entitas, proses, dan data store.
(Standar simbol DFD diadopsi dari metode Yourdon dan DeMarco – Shelly & Rosenblatt, 2011)
Level-Level DFD
DFD dibangun secara bertingkat untuk memberikan detail sesuai kebutuhan:
- Level 0 (Context Diagram): Menunjukkan seluruh sistem sebagai satu proses tunggal dan hubungan dengan entitas eksternal.
- Level 1 dan seterusnya: Memecah proses utama menjadi sub-proses untuk memperjelas logika sistem.
(Leveling pada DFD memudahkan pengembang dalam melakukan analisis sistem secara bertahap – Satzinger, 2012)
Langkah Teknis Membuat DFD
1. Identifikasi entitas eksternal. Misalnya: Mahasiswa, Admin, Pengurus, Kemahasiswaan.
2. Tentukan proses utama. Proses pusat adalah sistem yang mengelola seluruh aliran data, misalnya SOMATA (Sistem Organisasi Mahasiswa UNTAN).
3. Buat Context Diagram (Level 0). Tampilkan semua entitas dan proses utama beserta data flow-nya.
4. Rinci dalam Level 1 dan Level 2. Detailkan proses utama menjadi proses-proses kecil.
5. Gunakan alat bantu seperti: Draw.io, Microsoft Visio, Lucidchart, StarUML.
(Visual modeling tools sangat membantu mempercepat desain sistem – Dennis et al., 2015)
Penutup
DFD adalah salah satu alat penting dalam rekayasa perangkat lunak yang mempermudah proses analisis dan komunikasi antar tim. Dengan memahami struktur aliran data dan hubungannya, pengembang dapat merancang sistem yang efisien, mudah dipahami, dan bebas dari kesalahan logika.

Komentar
Posting Komentar